Kill the DJ juga merilis music video yang unik, kali ini dia melibatkan anak-anak di desanya untuk menari. Prosesnya dilakukan selama libur sekolah lalu.
“Aku ingin melibatkan anak-anak di desaku, mereka polos, belum pernah nari, belum pernah shooting, gak ngerti kesenian, tapi justru kepolosan itu yang membuatku tertarik. Semoga saja bisa membuka wawasan dan menginspirasi mereka kedepannya”, begitulah Juki, sapaan akrabnya, menerangkan.
Seperti juga single Ora Minggir Tabrak dan Kewer-Kewer (Libertaria) yang sangat jarang dipanggungkan namun menjadi viral di masanya dan hingga kini masih ramai di berbagai platform sosmed, sepertinya Kill the DJ ingin mengulangi kisah yang sama, yaitu lagu simple yang menjadi kesukaan anak-anak.
“Gak ngerti kenapa anak-anak bisa suka lagu-laguku?! Tapi baguslah, artinya aku punya ceruk pasar yang membuat umur lagunya bisa panjang. Meskipun sejujurnya gak ada intensi ke sana, aku hanya ingin membuat musik yang gampang saja buat semua” ujar Juki.
Lagu Rasah Kakean Sambat sendiri bermakna tentang pentingnya punya mental yang kuat, karena hidup memang tidak mudah, jatuh-bangun itu pasti, tapi jangan terlalu banyak sambat alias mengeluh.
Kill the DJ dan Jogja Hip Hop Foundation dengan segala keunikan musikal dan liriknya, seperti sebuah oase atas musik berbahasa Jawa yang kini didominasi oleh cidro, patah hati, sambat dan lain sebagainya, butuh alternatif agar variannya semakin banyak dan menyegarkan.



