Kultivasi pamit, rilis album rock "Cilik Tur Nggaya"

0

 


Ceritanya, ini karya pamungkas dari kami.

Empat belas tahun yang lalu, kami membentuk Kultivasi dengan ambisi besar: bereksperimen, membongkar pakem, menerobos batas-batas musikal, mengeksplorasi free jazz dan music eklektik yang adiluhung. Kami ingin jadi band yang nggak bisa ditebak, penuh kejutan, dihormati para intelektual musik, diundang ke festival-festival avant-garde dengan setelan nyeleneh dan muka sok serius—dengan resensi penuh pujian dari kritikus yang pakai kata-kata kayak "sonic deconstruction" atau "cacophony of brilliance"."

Tapi ya gimana, ternyata enggak nyampe.

Kenyataannya? Semua eksplorasi free jazz dan eksperimental liar yang kami cita-citakan, setelah diputar ulang, malah terdengar seperti album rock biasa. ROCK. Musik yang harusnya sudah kami tinggalkan untuk sesuatu yang lebih intelek dan estetis. Tapi ternyata? Tangan tetap mencengkram power chord, otak tetap butuh distorsi, dan kaki tetap menghentak di snare empat per empat. Eksperimen gagal, bro. Jadi daripada terus ngotot jadi band eksperimental yang eksperimentasinya nggak jalan, lebih baik jujur: Kami bikin album rock saja. Dari band kecil yang bercita-cita besar, tapi realita bilang "cukup segini aja".

 

Voilà, 15 Januari 2025 kami rilis album penuh “Cilik Tur Nggaya.” Album ini jadi retrospeksi panjang terhadap karier band yang nggak gede-gede amat, tapi gayanya kebangetan. Dalam bahasa Jawa, “Cilik Tur Nggaya” berarti "kecil tapi tetap kebanyakan gaya". Sebuah epilog dari band yang nggak pernah besar, tapi tetap merasa perlu berpose seperti rockstar. Album ini bukan sekadar kumpulan lagu, tapi sebuah dramaturgi kehidupan tua lajang yang (terlalu) akrab dengan swipe kiri dan kanan di dating app. Ada harapan, ada kesialan, ada fase di mana merasa superior, dan ada juga momen di mana akhirnya sadar kalau hidup tetap berjalan meski match tak pernah berlanjut ke obrolan. Kita buka dengan "Rock in Love", sebuah anthem bucin yang tetap berisik—perpaduan energi rock klasik dengan keresahan anak muda yang masih percaya cinta. Ini adalah momen optimisme palsu, ketika kita yakin bahwa dunia penuh kemungkinan dan cinta bisa ditemukan hanya dengan satu swipe ke kanan.


Lalu masuklah "Loreta", nama yang sekilas terdengar penuh misteri, tapi siapa sangka justru menjadi perwujudan dari ilusi keindahan di dunia maya yang ternyata absurd di kehidupan nyata. Seseorang yang tampaknya menarik di bio, tapi berujung ghosting setelah dua chat pertama.

Kemudian, "Putri Duyung Tomboy". Satu karakter yang entah nyata atau fiksi, yang mungkin hadir dalam hidup kita sebagai figura yang unik dan menarik, tapi tetap terasa tak tergapai. Bisa jadi ini adalah refleksi dari kesadaran bahwa kita terlalu banyak berharap, atau sekadar humor getir tentang ekspektasi yang terlalu tinggi.

"Cynthia", "Deborah", "Loreta"—nama-nama yang diselipkan di sela-sela lagu lainnya bukan tanpa alasan. Mereka muncul dan hilang, seperti siklus yang berulang di kehidupan pria lajang yang belum selesai mencari 'the one'. Mereka adalah figur-figur yang datang dengan harapan, tapi sering kali hanya numpang lewat dalam katalog kenangan yang semakin absurd. Di antara itu semua, ada "Sambath", yang mungkin adalah satu-satunya lagu dalam album ini yang benar-benar menerima realitas. Apakah ini fase di mana akhirnya kita berdamai dengan hidup? Atau justru titik balik menuju delusi berikutnya? Dan sebagai klimaks, "Kerja Lagi" hadir sebagai kenyataan pahit yang tak bisa dihindari. Tidak peduli berapa banyak swipe dilakukan, berapa banyak pesan terkirim tanpa balasan, atau berapa kali kita meyakinkan diri bahwa hari ini akan berbeda—pada akhirnya, Senin tetap datang. Pekerjaan tetap menunggu, hidup tetap harus berjalan, dan realita tetap lebih kejam dari ekspektasi.

Kami melihat perjalanan band ini seperti film indie murahan yang gagal di pasaran tapi tetap diputar terus di kepala sendiri. Kami pernah punya mimpi, pernah mencoba jadi sesuatu yang lebih besar, tapi akhirnya kembali ke titik awal—cilik, kecil, minimal.

 

Kami tentu tetap punya mimpi, untuk membuat sebuah genre baru. Setidaknya, kami pernah bermimpi jadi pelopor, tapi malah tertinggal. Tapi begini juga nggak apa-apa. Karena kalau ada satu hal yang bisa kami banggakan setelah 14 tahun, itu adalah konsistensi.

Jadi silakan dengarkan album ini di layanan streaming favorit kalian. Atau terserah. Kami sudah puas. Kultivasi akhirnya selesai—atau justru baru akan dimulai sebagai legenda kecil yang bakal diceritakan di tongkrongan warung kopi sebagai "band yang nyaris jadi revolusi, tapi nyatanya malah gagal menang ICEMA.”

Terima kasih buat yang sudah ikut menyaksikan perjalanan kami dari tidak terkenal ke tetap tidak terkenal.

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)