“Biru” Lahir dari keresahan tentang bagaimana chaos selalu punya cara buat mampir ke hidup kita, bisa lewat timeline yang isinya adu argumen tiap hari, obrolan tongkrongan yang mendadak panas cuma gara-gara beda selera dan pilihan, atau hal-hal kecil yang sebenarnya bisa berhenti kalau kita mau diem lima detik dan mencoba mengerti sudut pandang orang lain. Sebuah lagu yang basically lahir dari pengamatan paling sederhana yaitu manusia makin susah saling mengerti dan entah sejak kapan perbedaan jadi alasan buat saling benci.
Tapi “Biru” bukan sekedar igauan di siang bolong, Kahlo justru datang dengan nada yang jauh lebih jujur. They admit they’re confused too. They struggle to understand people and sometimes people misunderstand them too. It’s messy & that’s exactly why “Biru” feels personal. Alih-alih putus asa, “Biru” justru menyelipkan optimisme yang nyata dan bikin kita sadar bahwa pasti selalu ada momen kecil, ketika dua kepala yang berbeda akhirnya nyambung juga. Andai saja hal itu bisa terjadi lebih sering mungkin dunia ini bisa sedikit lebih tenang.


