Sebuah Kontras Antara Gelap & Harap dalam Album Perdana Upleaf ‘our nights are more beautiful than your days’

0

 


Bintaro, Mei 2026 – Upleaf, grup indie pop asal Bintaro yang digawangi oleh Arda Daffa sebagai Lead Vocalist, Fadilla Rizdaffa sebagai Guitarist, & Arvanzach sebagai Drummer pada akhirnya berhasil menepati janji dengan merilis album studio pertama mereka berjudul “our nights are more beautiful than your days”. Album terbaru ini telah berhasil mengudara pada  8 Mei 2026 dan sudah tersedia di seluruh Digital Music Platform seperti Spotify, Apple Music, Deezer, YouTube Music, Amazon Music, dll.



Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang lewat single ‘singin in the moonlight’, ‘together’, ‘blind & deaf’, dan ‘fana’ Upleaf akhirnya menepati janji mereka untuk lebih produktif kepada penggemar musik indie dengan merilis album studio pertama ‘our nights are more beautiful than your days’. Album ini berisikan 12 trek di dalamnya yakni ‘the first step; where it all begins’, ‘singing in the moonlight’, ‘about me & you’, ‘our nights are more beautiful than your days’, ‘blind & deaf’, ‘together’, ‘figuring out’, ‘if eyes could talk’, ‘heart to heart’, ‘noise in a quiet room’, ‘fana’, & ‘i choose myself rather than falling for you’.


Album ini menjadi sebuah catatan perjalanan emosional yang menangkap transisi manusia dari titik terendah menuju pendar cahaya baru. Judul album ini bukan sekadar rangkaian kata puitis, melainkan sebuah manifesto. Upleaf mencoba membedah narasi bahwa momen-momen fase tergelap dalam hidup seseorang justru seringkali menyimpan keindahan dan proses pendewasaan yang lebih intens dibandingkan saat segalanya tampak benderang. Melalui dua belas lagu yang dikemas dengan aransemen indie pop yang manis namun melankolis, Upleaf berkisah tentang perjuangan bangkit dari keterpurukan. Menariknya, band ini memberikan ruang luas bagi pendengarnya untuk menginterpretasikan "titik terang" tersebut secara personal.


“Gua yakin ga cuma kita aja yang pernah ngelewatin momen kayak begini, pasti ada banyak orang yang pernah di sini, dari situ gua yakin kalau album ini bakal relate dengan kebanyakan orang, ga mungkin ada orang yang selalu happy, begitupun sebaliknya, hidup ini emang kayak roda, tinggal nunggu kapan kita di atas dan kapan di bawah” Ujar sang frontman Arda.




Urutan lagu disusun untuk membawa pendengar melewati fase penolakan, kesedihan, hingga penerimaan diri. Lirik yang eksplisit namun tetap puitis, menyentuh berbagai aspek kehidupan mulai dari romansa hingga hubungan manusia dengan dunianya. Secara musikal album ini mempunyai variasi warna dan karakter yang beragam sehingga memungkinkan menarik lebih banyak tipe pendengar berbeda. 


Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)